Indahnya masa kuliah


Install APK purjianto
PURJIANTO.WEB.ID sangatta - Tidak terasa sudah 11 tahun saya bertemu dengan teman-teman saya ini, awal cerita indah kami dari bangku kuliah yang penuh cerita canda, tawa dan kadang duka walaupun kami bukan saudara akan tetapi ikatan pertemanan kita sudah seperti saudara.


Pertemanan kami di awali dari bangku kuliah dan kami ada yang satu kelas dan ada juga yang lain kelas, namun suasana keakraban kami sudah mulai terasa semenjak kami mulai berpetualang menjelajahi alam di kawasan Kutai Kartanegara.

Mungkin karena jurusan dasar dan didikan dasar kami adalah guru atau pendidikan, dalam jiwa kami sudah tertanam jiwa saling memiliki dan saling berbagi satu dengan yang lainnya walaupun kadang permasalahan di antara kami datang, namun kami tetap bersatu kembali.

Di antara kami hampir tidak ada yang berpacaran satu dengan yang lainnya, walaupun ada akan tetapi hubungan tersebut tidak sampai ke jenjang pernikahan.

Pengalaman yang seru ialah ketika kami kemah di Bukit Biru Tenggarong Kutai Kartanegara, pagi-pagi sekali kami berangkat dari Kota Samarinda, sesampai nya di Tenggarong kami harus meninggalkan kendaraan kami di Rumah salah satu warga dan harus berjalan naik ke bukit yang mana di atas itu ada tower katanya milik pemerintah.

Perjalanan kami menaiki bukit tersebut sangat melelahkan sekali, sebelum kami naik ke bukit tersebut kami di ajak dosen kami untuk membuat masakan kalau tidak salah ingat masakan itu akan di nilai kandungan gizi nya hehehehe intinya ya untuk bekal agar perut kita tidak kelaparan ketika menaiki bukit tersebut.



Kurang lebih pukul 16:00 kami mulai menaiki bukit tersebut, medan yang kami lalui tidak begitu mudah karena pada waktu itu musim panas jadi tanah dengan kemiringan hampir 70 derajat serta daun kering sangat berpotensi sekali kami jatuh kebawah karena terpeleset oleh daun kering.

Indahnya masa kuliah

Perjuangan kami menaiki bukit tersebut di bayar dengan keindahan alam yang begitu menakjubkan, mungkin efek dari rasa lelah kami berjuang menaiki bukit tersebut.


Dari puncak tersebut kami dapat melihat kota tenggarong dan kota samarinda di sore hari dan puncak keindahan tersebut kami nikmati ketika malam datang, lampu-lampu rumah, pertokoan, jalan dan kantor pemerintahan di nyalakan serta lampu motor dan mobil yang sedang lalu lalang menambah keindahan tersebut.

Wajah-wajah lelah kami terbayar dengan keindahan dari atas bukit tersebut, rasa lapar perut kami pun tidak bisa kami pungkiri dengan sigap kami memasak masakan yang sudah menjadi ciri khas seorang petualang yaitu MIE INSTAN dan secangkir kopi.



Yang tidak sempat kami fikirkan ialah persediaan air kami mulai menipis dengan terpaksa kami membuat team untuk mengambil air di bawah tempat kami pertama memasak untuk penilaian dari dosen kami tadi siang.
Baca juga : Belajar mengexplore keindahan alam kutai timur
Team kami berjumlah 6 orang turun kebawah untuk mengambil air dengan jerigen setiap orang untuk mencukupi kebutuhan kami semua, sesampainya di bawah tempat kami mengambil air, perut saya mulai tidak nyaman karena dari pagi belum BAB, akhirnya saya mencari tempat untuk BAB yang jauh dari teman-teman saya mengambil air.

Suasana seram mulai hadir menemani kami dan pengalaman pribadi saya ketika BAB tersebut lumayan menegangkan, ketika saya BAB bulu kuduk mulai berdiri akan tetapi saya cuek saja karena saya pribadi sering melihat hal yang seperti itu, saya melihat sosok kasat mata orang pada umumnya tidak melihatnya.

Setelah selesai, teman-teman saya sudah menunggu dan berbicara tentang dunia mistis lalu saya bercerita kalau saya tadi melihat sosok yang kasat mata, langsung saja mereka saling melirik satu dengan yang lainnya, tanpa ada komando mereka langsung lari ke menaiki bukit dan saya juga ikut lari karena takut ketinggalan mereka.

Waktu normal untuk menaiki bukit tersebut hampir satu jam, akan tetapi dengan rasa takut kami cuma butuh waktu 15 menit untuk sampai ke puncak bukit tersebut, sesampainya diatas kami tertawa terbahak-bahak karena takut dan rasa senang kami bisa sampai di atas bukit.

Suasana berangsur-angsur tenang setelah salah satu teman kami melantunkan lagu dengan gitar, sebagian ada yang bercerita dan yang sebagian lagi ada yang sudah tertidur pulas mungkin karena kelelahan.

Tidak terasa sang surya telah memancarkan sinarnya di ufuk timur, namun suasana di atas bukit tersebut masih terasa dingin sekali, lagi - lagi kopi dan mie instant menemani sarapan pagi kami agar perjalanan turun kami tidak terasa lapar.

Sebelum kami turun kembali, dosen kami pak Sumantoyo mengajak kami untuk bergembira sesaat, karena tebing batu dekat kami berpotensi sekali untuk climbing walaupun tidak tinggi namun menguji sebagian adrenalin teman-teman kami.



Setelah selesai melakukan aktraksi kecil, kami bergegas mempersiapkan perlengkapan kami sebelum pulang.

Jalur yang kami lewati ketika berangkat tidak sama, ketika kami turun dari bukit tersebut, kami melewati perkebunan kelapa sawit warga dan ternyata ada jalan setapak yang bisa kami lalui, mungkin sekarang sudah menjadi jalan besar untuk masyarakat memanen kelapa sawit mereka.


Wajah - wajah lelah kami akhirnya terbayar sudah setelah kami bisa melalui malam dan memandang bukit tersebut dari bawah.

Sampai sekarang pertemanan kami masih terjaga walaupun sebagian besar dari kami sudah berkeluarga dan tidak lagi satu kota, namun hampir setiap tahun kami selalu berkumpul bercerita tentang kehidupan kami sekarang.


Itulah kisah kami yang tidak pernah kami lupakan sampai saat ini, semoga pertemanan kita menjadi sebuah awal sejarah untuk anak cucu kita dan saya harap tidak sampai disini, mudahan anak dan cucu kita juga bisa berkumpul seperti kita pada masa - masa kuliah dulu.

0 comments